
SEBUAH sajak yang baik, pasti membekaskan sesuatu kepada pembaca apalagi penikmatnya. Penikmat sajak pasti ralit mencicipi larik demi larik makna sajak yang mengucurkan tamsilnya.
Justeru, sajak merupakan sebuah karya kreatif yang memperlihatkan keindahan bahasa jiwa dalam memperkukuhkan makna pemikiran yang cendekia.
Karya sajak bukan sebuah ciptaan yang itu-itu sahaja. Mencipta sajak yang utuh harus mendalami bahan binaannya.
Penulis wajar melengkapi diri dengan bahan bacaan yang pelbagai, memperkaya pengalaman serta menguasai bahasa yang manusiawi dengan tuntas. Dari gabungan tersebut, maka tercipta karya yang bukan sekadar estetik, tetapi berupaya merentas zaman dan terus menadikan pemikiran penikmatnya.
Sememangnya, keaslian sebuah sajak tidak diukur daripada pembaharuan tema semata namun keupayaan penulis dalam membangkitkan tafsiran persoalan yang segar terhadap pengalaman manusia sebenar.
Lazimnya, renungan penulis melihat dunia dari jendela yang berbeza sangat penting. Oleh itu, pengalaman yang serupa mampu menghasilkan sajak yang berlainan jika diolah dengan ketulusan, kebijaksanaan dan daya tamsil yang mendalam.
Dari situ terbentuknya jati diri penulis sejati, yakni keberanian menemukan suara sendiri, bukan cuma menyamarkan suara orang lain.
Sajak yang berdenyut ialah sajak yang mampu menggerakkan saraf pemikiran sebelum menerapkan salur emosi terhadap pembacanya. Keindahan bahasa memang penting, namun keindahan tanpa gagasan bukanlah apa-apa seperti lukisan yang polos.
Sebaliknya, apabila bahasa yang sederhana diharmonikan dengan pemikiran yang bernas, maka terciptalah karya yang bukan sekadar enak dinikmati, tapi langsung berakar dalam ingatan pembaca. Itulah sajak yang tidak larut dalam kebiasaan, sebaliknya sentiasa menzahirkan rupa menawan setiap kali diamati.
Oleh itu, syabas dan tahniah kepada penulis-penulis pemula seperti A.K, Delnasz dan Manyuz yang tampil berani menulis sajak dengan pemikiran dalam diri mereka. Sajak-sajak mereka telah disiarkan dalam ruangan Wadah Bahasa dan Sastera (WBS), akhbar Utusan Sarawak pada hari Khamis yang lepas.
Sajak-sajak yang dinukilkan oleh mereka pada dasarnya begitu intim dengan soal perasaan dan pemikiran yang merupakan sebuah perkongsian pengalaman serta pengamatan kendiri.
Semua sajak tersebut seperti berusaha memberi kehidupan kecil dalam wadah yang peribadi. Mudah-mudahan nilai perasaan dan pemikiran yang diamati tersebut dapat membekaskan sesuatu dan menelusuri jiwa pembacanya.
Sajak “Dia yang Hilang” oleh A.K bertemakan rindu anak kepada ayahnya. Sajak ini dipenuhi dengan kesah dan kasih penulis yang tidak terbendung terhadap sosok ayah yang tidak pernah benar-benar hadir dalam kehidupannya. Misalnya dalam rangkap berikut;
Mengingatimu dalam hela nafasku
Membayangkamu dari ocehan ibu
Melihatmu cuma dari gambar
Kutaruh dalam berkas doa
Pada Yang Esa kuserah percaya
(rangkap 2, sajak “Dia yang Hilang”)
Menerusi rangkap akhir sajak, penulis menegaskan tentang rindu yang jelas dan hasrat yang pasti. Misalnya;
Sungguhku rindu
Sungguhku ingin bertemu
Padamu insan bergelar
Ayah
(rangkap 3, sajak “Dia yang Hilang”)
Sajak ini berbentuk bebas dan dibina dalam tiga buah rangkap yang sederhana panjangnya. Gaya bahasa sajak ini biasa dan kata yang digunakan agak langsung hingga menampilkan kesan sajak yang kurang berlapis makna.
Emosi penulis sampai kepada pembaca, namun dari sudut estetik, ada beberapa ruang yang boleh diperkemas lagi agar kesannya lebih mendalam.
Oleh itu, pemilihan kata dalam sajak ini masih memerlukan penelitian kerana penggunaan unsur-unsur persajakan seperti simile, citra, personifikasi, metafora dan lain-lainnya perlu diolah lebih tuntas bagi menyuguhkan tamsilan dan ungkapan agar lebih spiritual.
Penyerahan harapan kepada Tuhan dalam rangkap satu dan dua telah memberikan kesatuan makna dalam sajak ini. Nuansa ini membekaskan suatu yang manusiawi kepada pembaca.
Namun jika penulis sengaja merujuk kepada Tuhan, gunalah kata “Maha” agar impaknya lebih mengabdikan diri yang kerdil.
Selain itu, beberapa pilihan kata dalam rangkap pertama sajak kurang utuh jalinannya. Hal ini meremehkan pengamatan pembaca untuk menikmati makna tuntas rangkap sajak. Misalnya pada kata bergaris berikut:
Berdiri dilantai kehidupan
Sunyiku ditemani angan
Tekadku menjawab persoalan
arah tuju dan haluan
Langkahku penuh impian
Pada Yang Esa sangga harapan
Penggunaan kata hubung “di” harus dijarakkan kerana merujuk pada tempat. Manakala kata “angan” kurang utuh bagi mengungkap hasrat yang ada. Penulis perlu menyesuaikan kata yang lebih semangat dan menginspirasikan bagi menyatakan kesungguhan perasaan terhadap impiannya. Sekadar saranan, kata “janji” ditanggapi lebih meyakinkan iltizamnya.
Selain itu, kata ”ocehan” juga kurang sesuai jika cerita tentang ayah kerana penulis bukan kanak-kanak lagi untuk mendengar celoteh ibu. Begitu juga dengan kata “berkas” doa, bukanlah pilihan kata yang syahdu bagi menggambarkan ungkapan dalam rangkap kedua sajak. Sekadar saranan, larik “Kutaruh dalam berkas doa” diubah menjadi “kupeluk dalam hangat doa” agar meninggalkan impak emosinya dan gema makna yang lebih lama.
Sajak ini mempunyai emosi yang utuh, tetapi perlu dimurnikan dengan makna imejan dan metafora yang lebih tampil serta diksi yang lebih terampil agar sajak ini benar-benar membekas dalam tamsilan pembaca.
Sajak “Untuk Dirimu” oleh Delnasz bertemakan nostalgia dan kerinduan terhadap seseorang yang pernah akrab dalam hidup penulis. Kekuatan tema sajak ialah kejujuran rasa penulis yang tidak berlebihan. Sajak ini masih tersusun dalam meluahkan perasaan rindu kerana penulis masih ingin merisik khabar dia yang dirindui. Misalnya;
Aku menulis ini
Bukan sekadar rindu
Tapi ingin tahu
Masihkah kau seperti dulu?
Sudah lama kita tidak bersua
Kukira kau banyak berubah
Rupanya kau masih serupa.
(rangkap 1-2, sajak “Untuk Dirimu”)
Menerusi rangkap selanjutnya, penulis menyoroti perasaan cinta dalam sajak. Penulis terbawa dengan kenangan lama yang mesra, nyaman dan membahagiakan. Jika diungkap secara lebih puitis, pasti kesannya akan lebih menggetarkan. Misalnya;
Aku tak pernah lupa
Senda guraumu
Membuatkan aku ketawa
Oleh manis senyuman
Dan manja sentuhanmu
Begitulah aku
Sering dikejar ingatan
Dalam kenangan kita
Biarpun tak semuanya manis.
(rangkap 3-4, sajak “Untuk Dirimu”)
Manakala pada akhir rangkap sajak, penulis memilih tenang dengan segala yang telah terjadi. Justeru, penulis menutup rangkap sajak dengan lembut, matang dan mendamaikan. Misalnya;
Rindu menyapaku
Pada kenangan lalu
Lalu kusimpan di satu bucu
Tetap indah sampai ke kalbu.
(rangkap 5, sajak “Untuk Dirimu”)
Sajak ini mudah dihayati tanpa perlu jeda untuk mentafsir makna tersirat. Dari sudut estetik, penulis masih perlu memperkemas diksi, mengurangkan pengulangan yang lewah dan memperkukuh kesinambungan emosi antara rangkap sajak agar penikmatnya masih ingin mencicipi persoalan yang hendak diolah.
Sajak ini juga berbentuk bebas dan dibina daripada empat rangkap yang sederhana bagi mengungkap persoalan yang ada.
Gaya bahasa sajak masih memerlukan sentuhan yang lebih tuntas agar penyampaian ungkapannya lebih komunikatif dan menjiwai suasana hati yang sebenar. Justeru, penulis kurang menggunakan citra dan kias tertentu bagi menaakul rasa dan pemikiran yang ada.
Hal ini menyebabkan kesan sajak menjadi itu-itu sahaja. Oleh itu, disarankan agar penulis memperincikan imej sajak agar lebih segar dan sesuai dengan suasana hati sunyi yang sebenar.
Bagi mencapai kehalusan sajak yang berkesan dari sudut estetik, penulis disaran agar memperkayakan citra, memperbaharui diksi dan mengelakkan frasa-frasa yang begitu konvensional.
Apabila bahasa menjadi lebih segar dan pengalaman lebih khusus, kerinduan yang sama akan terasa jauh lebih merangkul lalu meninggalkan kesan yang lebih lama dalam ingatan pembaca.
Penulis harus mengelakkan larik yang klise seperti “manis senyuman” dan “rindu menyapa”. Diyakini larik “ranum senyum”, “rekah tawa” dan “kerling rindu” lebih estetik digunakan.
Penulis juga boleh memasukkan unsur kejutan kecil pada lapisan makna sajak agar pembaca tidak melupakan persoalan yang ada.
Terakhirnya adalah sajak “Aku yang Baru” oleh Manyuz. Sebuah sajak yang mempunyai tema yang telus, iaitu perubahan atau peralihan diri. Dalam sajak ini, penulis mengisytiharkan kelahiran semula dirinya.
Seorang individu yang pernah celaru dan berhijrah kepada individu yang lebih sedar, beriman dan bersedia menghadapi cabaran yang ada. Pengulangan kata ganti diri “Aku” pada setiap rangkap memperlihatkan proses pembinaan identiti baharu yang jitu. Misalnya;
Aku
Mendongak dada langit impian,
… .
Aku…
Menulis sebaris keimanan
… .
Aku….
Melontar jauh keraguan
(rangkap 1- 3, sajak “Aku Yang Baru”)
Dalam sajak ini, penulis berusaha menyatakan sebuah proses perubahan diri ke arah kesempurnaan yang manusiawi. Penulis dengan kobaran semangatnya ingin menyatakan tekad dan kesungguhan dirinya untuk membentuk sahsiah diri yang baik. Misalnya;
…
Menulis sebaris keimanan
Mengukir papan perjuangan
Melukis secarak harapan
….
Melontar jauh keraguan
Memecah kaca dugaan
Membelah ombak ujian
(rangkap 2 – 3, sajak “Aku Yang Baru”)
Manakala dalam rangkap akhir sajak, penulis menyimpulkan bahawa matlamat transformasi dirinya adalah satu, iaitu untuk sebuah kejayaan. Misalnya;
Demi sebuah kejayaan…..
(rangkap 5, sajak “Aku Yang Baru”)
Bentuk sajak ini bebas dan dibina daripada lima buah rangkap bagi menyatakan azam penulis untuk menjadi individu yang baru. Gaya bahasa sajak sederhana dan agak langsung ini menjurus kepada makna sajak.
Kekuatan sajak terletak pada tekad penulis yang konsisten untuk berubah elok. Proses emosi penulis meningkat dari rangkap pertama hingga ke rangkap ketiga sajak. Sajak ini juga mempunyai semangat yang kuat tetapi kekuatan tersebut tidak diolah dengan menggunakan imej yang utuh.
Olahan sajak cenderung kepada nada motivasi berbanding nilai puitika yang meninggalkan kesan estetik kepada pencintanya.
Dalam sajak ini sebenarnya masih dikesan kelonggaran binaannya. Proses perubahan diri kurang diperincikan oleh penulis dengan elemen persajakan yang ada.
Jika setiap rangkap memperlihatkan perubahan daripada “aku yang lama” kepada “aku yang baharu” secara lebih tersirat melalui metafora, kiasan dan imejan, sajak ini pasti lebih mengalir dalam lapisan makna yang menginspirasikan. Penulis boleh meneliti semula larik-larik sajak dalam rangkap berikut;
Menulis sebaris keimanan
Mengukir papan perjuangan
Melukis secarak harapan
Larik “menulis sebaris keimanan”, kurang memberi impak spiritual apabila tindakan “menulis keimanan” digunakan kerana iman adalah sesuatu yang tinggi dan mistik nilainya untuk ditulis sebaris.
Begitu juga apabila penulis “mengukir papan perjuangan” terasa kurang tepat kerana papan bukan lambang yang utuh untuk citra semangat. Jika penulis mahu mengekalkan unsur ukiran, penulis langsung sahaja menggunakan unsur metafora seperti “mengukir prasasti perjuangan” yang diyakini lebih berkesan apabila dibayangkan.
Selain itu, dalam rangkap ini juga dikesan kesilapan ejaan yang telah menyasarkan makna sajak, iaitu kata “secarak” yang sepatutnya, “secarik”. Larik “melukis secarak/secarik harapan” tidak menggambarkan impak kerana perbuatan melukis kurang untuk kesan secarik.
Maka, penulis perlu meneliti dengan apa yang ingin digambarkan lewat larik sajaknya agar makna sajak lebih utuh.
Semoga dengan teguran dan saranan yang ada, penulis dapat memahami apa yang ingin disampaikan dengan berlapang rasa dan tanggapan. Sememangnya menulis sajak yang baik bukanlah sesuatu yang itu-itu.
Karya sajak memiliki pemaknaan yang tepu dan utuh lewat kata-kata yang dipilih penulisnya. Maka, para penulis pemula ini disarankan agar mahu memperkemas imejan, pilihan kata dan kesinambungan makna dalam sajak mereka yang lain.
Rumusnya, ketiga-tiga buah sajak yang dibicarakan tadi jelas menggambarkan sajak yang bagus kerana semuanya bernuansa kebaikan yang manusiawi. Dalam kata lain, yakinlah bahawa sajak selalu menemukan jalannya sendiri untuk menelusuri jiwa yang tulus.
Oleh itu, semangat dan harapan A.K, Delnasz dan Manyuz dalam penulisan sajak wajar diberikan ruang dan peluang yang lebih khusus pendedahannya. Mereka berupaya memperlihatkan nilai pemikiran yang kritis dan kreatif.
Mudah-mudahan sikap positif teguh menjejaki diri ke jalan kritik yang lebih membina dan terbuka. Syabas dan sukses, selalu!
Oleh Rosani Hiplee