PUISI

Facebook
WhatsApp

Damai yang Hilang di Langit Kota

Dalam sesak hiruk pikuk kehidupan

Bandaraya yang kian pesat

Aku terdampar di sisi sempit

Mencari sebuah damai

Yang tidak kunjung tiba.

Saban hari menelusuri kehidupan kota

Umpama ranjau berduri yang menusuk luka

Pada dinding wajah lesu dan emosi rapuh

Tiada tersisa sekelumit bahagia

Dek sibuk mengejar harta.

Kota ini tiada ehsan

Pada manusia yang lemah dan dina

Yang terus menekan

Agar mereka

Terus terpinggir di persimpangan

Tersisih daripada sebuah kehidupan

Seorang Insan.

Damai yang dulu tiada lagi

Gelak tawa tabur budi

Antara Insani

Kini

Menjadi amalan yang asing dan menghairankan

Sealam jagat

Yang kini membuat

Tatkala jauh serasa dekat

Dan yang dekat umpama tiada.

Kota ini mengasuh insan

Menjadi hamba durhaka

Pada sang pencipta

Menjadi anak tak kenang budi

Membina keluarga yang berantakan

Melahir jiran yang melupakan

Membentuk masyarakat yang berlawanan.

Jika tiada kekuatan iman dan perpaduan.

Randy Kembaren Zulfri

SMK Sibu Jaya

Ode Buat Sang Pujangga

Majas di celah jingga senja

Sering kali menggoda jiwa

Untuk memintal benang kata

Ditenun menjadi bait berirama

Bersulam matra rasa

Bunga tabur kenangan

Ode buat sang pujangga

Sendu rimanya kudendang

Mengiringi senja pulang

Dijemput malam

Fitrah alam…

Christine Tan Robert

Kuching, Sarawak

24 Jun 2022.

Angin Bayu

Setidaknya angin bayu yang lalu,

masih membelai jiwaku yang keresahan,

serta menemaniku dengan pawana kelu,

tanpa sepatah bicara rasa kaku.

Tidak seperti diri kamu,

kelihatan keluhan iktikad palsu,

yang seolah terpaksa bertahan,

di kerapuhan dahan ragaku,

yang gerhana akan kemesraan,

dan sepertinya sulit untuk dirimu menyatakan,

aku bukanlah jasad yang kau inginkan,

yang aku ini hanyalah insan kau simpatikan,

cuma sekadar koordinat tersasar haluan,

untuk kau lemparkan belas kasihan.

Setidaknya angin bayu yang bertiup selalu,

tidak mengherdikku seperti itu,

tidak juga memandang aku segeruh itu.

Setidaknya tatkala angin bayu itu jemu,

dan berhenti menghembus pawana sayu,

ia tidak mengguris diriku,

dan meninggalkan parut kelabu.

Adie Abd Gani

Jabatan Pertanian Sarawak

30 Mei 2022

Sajak

Diam Diam. Ada kata — diam : bibir berkatup. Ada kata — diam : tiada tala. Kataku, Diam — tala

Antara Dua Diam

HARI pertama aku pegang dia. Kecil. Cerah kulitnya, ikut mak. Tangisannya kuat, seolah-olah dia belum bersedia menghadapi dunia. “Abang nak

Unsur Prosa dan Puitis dalam Sajak

APABILA membuat penelitian terhadap sesebuah sajak, selalunya usaha lebih tertumpu untuk memahami aspek intelektualisme dan nilai ilmunya. Namun pada masa