PUISI

Facebook
WhatsApp

Mengubati Igau

masa menyamar doktor

membalut beberapa luka

yang tertunda

berulang kali, tekal

dirinya mengaku penyelamat

cekal dirinya bukan

pengkhianat

pada sebuah janji dikota

luka-luka tidak akan

mendarahkan derita

bahkan tidak

mengulang kecewa

namun mengapa

kesembuhan masih

menyuntik hiba antara parutnya?

Adie Abd Gani

Kuching, Sarawak


Kelopak Ros Gugur

Kelopak ros yang gugur

Tidak pernah membenci angin yang bertiup

Apa lagi marahkan tangkai yang melepasnya

Kerana ia gugur saat tepat waktu

Takdir tiba untuk jatuh ke tanah

Menyembah bumi

Walaupun dulu mekarnya

Ia yang tercantik lagi mewangi

Sering dipuji

Namun, saat gugur

Ia layu, buruk

Belajarlah dari kelopak ros yang gugur

Ada waktu kita perlu redha dan akur

Itu bukan maksud kita tak ampuh

Hari ini diangkat seperti raja

Belum tentu esok lusa kita selesa

Kerana kita cuma hamba

Hanya Yang Esa berkuasa merencana

Wan Roslina Wan Yusof

Kota Samarahan


Litmus Lidah

Bak sebuah gelombang

Dahulu bergetar

Ikuti frekuensi kata nenek moyang

Tapi kini nadanya hilang

Dalam bising algoritma

Dinding digital menyerap senyap

Graviti sosial

Gaya hidup mengheret anak bangsa

Ke dasar norma luar

Hingga terlupa asal diri

Perlahan mereput seperti jasad

Tiada lagi diberi oksigen

Bahasa…

Dulunya molekul bernyawa

Bersarang dalam adikarya

Kini perlahan tercerai

Seperti DNA tanpa kod lengkap

Bahasa dikira statik

Tetapi lupa mereka satu hukum

Semakin rapuh bila tidak disentuh

Laksana logam sifatnya

Rapuh bila dibiari berkarat

Layu mengalun

Nampak semata cahaya putih

Dikuburi kepolosan

Membangkitkan spektrum tanpa warna

Yang lupa disatui semula

Dan jika suatu hari

Lidah hanya tinggal otot

Tanpa makna yang dibiarkan

sunyi itu menjadi warisan

Suara yang pernah ada

Namun bisu yang lebih bergaya

Diagungkan

Auni Hasya

Daro,15 April 2025

Sajak

Diam Diam. Ada kata — diam : bibir berkatup. Ada kata — diam : tiada tala. Kataku, Diam — tala

Antara Dua Diam

HARI pertama aku pegang dia. Kecil. Cerah kulitnya, ikut mak. Tangisannya kuat, seolah-olah dia belum bersedia menghadapi dunia. “Abang nak

Unsur Prosa dan Puitis dalam Sajak

APABILA membuat penelitian terhadap sesebuah sajak, selalunya usaha lebih tertumpu untuk memahami aspek intelektualisme dan nilai ilmunya. Namun pada masa