PUISI

Facebook
X
LinkedIn
WhatsApp
Telegram

Hedonis Menangis

Di tengah kota raya yang menjanjikan halwa rasa,

Dalam impi sejuta warna,

Kini hebat tertangguk sukma,

Sirna segala makna bagai bahtera tanpa layar,

Leluhur mengutuk pada teguk elok kian lekuk,

Ramping peribadi budi terperenyuk,

Dosa dan pahala terkantuk,

Dalam peluk iblis bertanduk,

Di tengah kota raya yang menjanjikan halwa rasa,

Kedaluwarsa mengufuk senja,

Melirih rayu hedonis penuh telaga air mata,

Berpohon-pohon pada yang Esa.


Farah Athirah

Memilih Pulang

Relung luruh

nyataku meragu

menjasadkan keluh

meratapi pedih waktu.


Jalanku berbinar

mendung mengisi latar

jasad terdampar

tak mampu berfikir benar.


Merayu ketenangan

tidak jumpa bayang

tersesat di kejauhan

terfikir bagaimana akhiran.


Aku di fasa lelah

kalbuku meruntun

rindu kekasih lara.


Aku memilih pulang

menadah jumantara

puja seluruh padaMu

Engkau di urutan pertama.


Norizan Ramli

Sibu Jaya

Cecair Warna

Langkahku tersekat di senja

hanya berteman cecair warna

apakah aku harus mewarnai siang

atau menconteng gelapnya malam?


Aku mulai termenung sejenak

pantas aku menguji cecair warna

membersit keindahan uniknya mereka

berkelipan cahaya menyinar.


Indahnya mampu mewarnai bianglala

dari gaulan menjadi gambaran

dari gambaran menjadi taulan

hebatnya sang cecair warna.


Dalam hukumnya berpantang larang

patuhi ia lihatlah petua

pandanglah latar jadi pedoman

agar tidak hitam gelapnya bayang.


Warnailah segera sebelum mentari terbenam

hargailah cahaya sebelum gelapnya malam

tak semua insan ingin mewarna

kerna masih bertapak berasing meja.


Muhammad Aniq bin Sapini

Pulau Melayu

Sajak yang Bukan Itu-itu

SEBUAH sajak yang baik, pasti membekaskan sesuatu kepada pembaca apalagi penikmatnya. Penikmat sajak pasti ralit mencicipi larik demi larik makna

TIANG BELIAN KUMANG

KUMANG sesak nafas bagaikan dadanya terisi penuh oleh biji-biji lada yang semerah matahari yang tegak di kepala. Pandangannya lantas berbinar-binar.