PUISI

Facebook
WhatsApp

Pudarnya ManisTamar

Manis tamar

dalam kemam lidah

tetap pudar rasanya

sama seperti jiwa

yang masih runtuh

mencari sosok ayah

di meja makan biar

sudah lima musim berlalu.

Bingit beduk dipalu

seiring azan sore

tidak mampu memecahkan sunyi

dalam kamar sukma

merindu kelibat ayah

menyenduk kasih masakan ibu.

Ramadan kali ini masih

berisi dengan sepi

ayah yang pergi sudah nyaman

dalam pelukan Illahi

di negeri abadi.

Nabillah Bolhassan

Universiti Teknologi Sarawak

Tangga Rumah Patah

Dalam kotak ingatan

terlihat segala gelap menjadi terang

susuk tubuh membelakang pandang

serak bonda meneriak

kayu api belum dicari

air tempayan setengah isi

perlahan ayah penuhi tuntutan

memikul perit di bahu

dapur berasap kembali.

Usai Subuh kuali berkelahi

bau tumis sambal kering

mengikat kain batik

geraknya dalam malap cahaya

tangkas lantai berbunyi

sejadah sudah bersidai

ampaian kasih bonda penuh

mencelik hujung Syaaban.

Bermusim bonda pulang

tinggal tergantung sepi kenang

tatkala melintas tadi senja

tangga patah belum berganti batu

sejadahnya menadah hiba tumpah.

Dalia Kasim

Kuching, Mac 2023.

Satu Penantian

Hari demi hari

berlalu sepi

ku disini setia menanti

hadirmu hanya setahun sekali

kupanjatkan syukur ke hadrat ilahi

diberi kudrat untuk memuliakanmu lagi.

Ahlan Ya Ramadan,

Bulan penuh keberkatan

yang dinanti-nantikan

tasbih dan tahmid suci

pasti menjelari dinihari

dengan ayat-ayat suci

menjadi pedoman

mengabidkan diri.

Sapinah Abd. Nasir

IPG Kampus Rajang

Sajak

Diam Diam. Ada kata — diam : bibir berkatup. Ada kata — diam : tiada tala. Kataku, Diam — tala

Antara Dua Diam

HARI pertama aku pegang dia. Kecil. Cerah kulitnya, ikut mak. Tangisannya kuat, seolah-olah dia belum bersedia menghadapi dunia. “Abang nak

Unsur Prosa dan Puitis dalam Sajak

APABILA membuat penelitian terhadap sesebuah sajak, selalunya usaha lebih tertumpu untuk memahami aspek intelektualisme dan nilai ilmunya. Namun pada masa