Sajak

Facebook
WhatsApp


Aku Anak Merdeka

Aku anak Merdeka

bernaung di bawah

panji Borneo pertiwi

tujuku hanya satu

alahkan lawan durjana

biar berpantang mati sebelum ajal.

Aku anak Merdeka

bangkit dari persada luka

patah sayap bertongkat paruh

berdiri megah di pentas wira

ingin ku tebus maruah bangsa.

Aku anak Merdeka

terjaga dari ranjang kecewa

terpahat sumpah setia

sumpah darah anak muda.

Aku anak Merdeka

menaruh diri di medan ini

ku sirna segala penderitaan

menghening tangis kesakitan

menyala semula api nasionalisme.

Aku anak Merdeka

harapan nusa bangsa

akan kutentang petualang negara

yang tegar membuat onar

yang merakus kuasa membenam mayat.

Aku anak Merdeka

di hati semangat waja

di dada penuh satria

ini tuah akan membela

untuk kurawat luka lama.

Claudia Simba

Miri


Perwira Diraja

Darat, udara, laut
tiga mata tombak bangsa
Kami satu tubuh, satu nadi
Perwira Diraja, bayang setia bumi.

Langkah tak terlerai di batas luka
berpeluh di tanah, bernafas di bara
Di dada kami, sumpah disemat
panji pusaka tak akan rebah.

Andai tubuh rebah di medan
biar roh melayang ke langit pertiwi
Jangan luntur bara juang
kerna merdeka bukan warisan mati.

Darah kami tinta sejarah
jiwa kami naskhah bangsa
Di celah debu dan jerit senyap
kami ukir damai dengan nyawa.

Wahai pertiwi
kami datang bertelut bakti
Dengan saksi langit dan bumi
kami genggam sumpah hingga abadi.

Koperal Muhammad Hafiz bin Berahim (ATM)

Kem Penrissen, Sarawak

20 April 2025


Sejurus Turun ke Darat

dari ketinggian ini

tanah cuma garis-garis

lintang, gerutu, bertitik

sedangkan laut

biru, teduh, serba ibu

awan, kurus dan gemuk

semakin tinggi di udara

sekecil zarah kurasa diri

seluas apa di luar bumi?

tinggal soalan, di langit

kuterlupa segala

sejurus di darat senja

Abdullah Hussaini

3 Januari 2025

Lapangan Terbang Antarabangsa Kuching.

Sajak

Diam Diam. Ada kata — diam : bibir berkatup. Ada kata — diam : tiada tala. Kataku, Diam — tala

Antara Dua Diam

HARI pertama aku pegang dia. Kecil. Cerah kulitnya, ikut mak. Tangisannya kuat, seolah-olah dia belum bersedia menghadapi dunia. “Abang nak

Unsur Prosa dan Puitis dalam Sajak

APABILA membuat penelitian terhadap sesebuah sajak, selalunya usaha lebih tertumpu untuk memahami aspek intelektualisme dan nilai ilmunya. Namun pada masa