Ditawan Sepi
Ditawan sepi,
Penjaranya adalah duka,
Jeriji-jeriji resah tersusun di dada,
Tidak sempat aku menjerit ketika meronta,
Jiwa dipukul sunyi tanpa suara,
Kian mengecil ruang rasa,
Kian menghimpit makna.
Ditawan sepi,
Rinduku bergetar perlahan di ruang yang retak,
Doa-doa mengalun dalam luka yang tak pernah padam,
Mengusir kelam dari sudut kalbu yang rapuh,
Setiap lima waktu aku kembali kepada-Mu,
Dalam tenunan takwa yang menahan rebah,
Agar aku tidak hilang dalam gelap sepi ini,
Di kala aku terus ditawan sepi.
Mohamad Rosdy Dahri
Kuching, Sarawak
Menerpa Tenang yang Kosong
Hanya apabila ada kekosongan
aku rasa duniaku tenang
begitu sulit untuk membezakan
tenang dengan sunyi yang kualami
sunyi juga bagian pelukan
bertandang
cukup menghangatkan.
Hal-hal hebat terjadi di belakang tadbir
dalam persembahan
aku watak utama
lampu-lampu menampakkanku ceria
di belakangnya
aku riuh dihina.
Manusia terlalu buruk bicara,
mampuku menahan air mata
tidaklah sekeras batu
kurampas tisu,
berlari di hujung waktu
menyapa tenang yang sunyi
agar bisa kembali
ke tempat selorohku berbunyi.
Ada kalanya
Menjarakkan diri
dan berjalan sendirian
tanpa berteman
harus kita relakan.
Hanya apabila sendirian itu tenang,
sunyi itu tenang
dan tenang
tidak bermaksud kau kesunyian.
Syabel Hamzah
Kuching
Lauk Semalam
Bismillah permulaan bicara
Aku menyusun setiap bait bicara
Aku tak ingin ada yang terluka
Dihiris madah pujangga.
Sekeping nota berbaris nasihat
Diletakkan bersebelahan lauk semalam
Terhidang ikhlas di atas meja
Butir- butir katanya yang memanahkan
Katanya lauk itu berintikan kecukupan
Masin namun tidak membuatkan engkau teracun.
Katanya, lauk itu dimasak penuh keikhlasan
Mampu bertahan bahkan bertahun lamanya
Sedangkan engkau tidak mampu bertahan
Walau badai menghembus deras.
Katanya, lauk itu dimasak penuh pemikiran
Berfikir sebatas perlakuan
Berfikir sebelum kakimu melangkah
Sekali kau terpijak duri tajam
Engkau boleh membunuh seribu lautan impian.
RatnaDewi Asmara




