Puisi

Facebook
WhatsApp

Manusia dan Fitrah

Andai manusia dan masa adalah seteru

Suasana jadi haru-biru

Kerana masa akan meninggalkanmu

Andai manusia dan kebenaran kian renggang

Tiada daya untuk menghalang

Pasti kebenaran akan menang

Andai manusia dan sabar bukan jodoh

Rumah yang kukuh akan roboh

Jiwa yang sabar tidak akan rapuh

Andai manusia dan iman dipisahkan

Tiada rindu saat berdampingan

Iman menghindar dari pandangan

Manusia dan fitrah punya hubungan

Termaktub perintah dan larangan

Hukum alam usah diabaikan

Nadzirah Maripat

Kuching

Lentera Hidup

Hidup itu pilihan,

Lorong hidup yang penuh liku,

Cabang perjalanan yang cukup panjang,

Simpang kehidupan dan kehancuran,

Jelas terhampar di hadapan mata,

Cuma bezanya kau memilih yang mana,

Dibelenggu noda-noda dunia semata,

Atau sinaran indah bak mentari jingga.

Hidup itu perjuangan,

Demi menggapai puncak kejayaan,

Menggenggam mutiara erat di dada,

Melayari kanvas hidup berharga,

Berjuanglah mencapai segala cita,

Tidakku undur menyerah kalah,

katakan pada seantero jagat raya,

Aku tak takut meranjau badai samudera.

Hidup itu pengorbanan,

Bukan datang terbang melayang,

Bukan menunggu bak pungguk rindukan bulan,

Bukan menanti bulan singgah ke riba,

Semuanya cuma penantian yang cukup sia-sia,

Tanpa pengorbanan menakluk ilmu dunia,

Kamu kan tersungkur terpuruk di lembah derita,

Meraba mencari sinar di celah gua sengsara.

Hidup itu anugerah,

Yang maha kuasa kepada hambanya,

Untuk kita menghargai titisan hujan nikmat,

Mensyukuri setiap hembusan nafas,

Sujudlah ummah memohon limpahan rahmat,

Moga hidup beriring berkat.

Norazmah Sartoni

SMK Agama Sibu

Harapan

Kosong,

Pandangan liar sering terpesong,

Tutupkan mata khuatir sungkur,

Tekad diri terus melungsur,

Demi impian kian layur.

Lemah,

Jiwa ini kembah,

Bertebaran cuba mengubah khalikah,

Nafsu meronta hati merekah,

Taubat datang menyanggah,

Menuntut insan kembali harakah.

Bangkit,

Cekal batin menangkis sakit,

Zahir gigih gerakkan rakit,

Walau ujian hampir ulit,

Segunung ilmu tetap disungkit.

Nurul Aiman HamidKampung Tema Saan, Tebedu.

Sajak

Diam Diam. Ada kata — diam : bibir berkatup. Ada kata — diam : tiada tala. Kataku, Diam — tala

Antara Dua Diam

HARI pertama aku pegang dia. Kecil. Cerah kulitnya, ikut mak. Tangisannya kuat, seolah-olah dia belum bersedia menghadapi dunia. “Abang nak

Unsur Prosa dan Puitis dalam Sajak

APABILA membuat penelitian terhadap sesebuah sajak, selalunya usaha lebih tertumpu untuk memahami aspek intelektualisme dan nilai ilmunya. Namun pada masa