PUISI

Facebook
X
LinkedIn
WhatsApp
Telegram

Di Saat Kunanti

Di saat tanpaku nanti

kaukan berjumpa apa yang kau suka

namun takkan pernah sama

yang kita lalui bersama.


Di saat tanpaku nanti

jika kau bersedih, sendiri

dan rasa khuatirkan sesuatu

dan kau masih mengingatiku

kirimkanlah berita buatku

di aplikasi biru

daku sedia mendengar kesulitanmu.

Di saat tanpamu nanti

kan daku tabahkan hatiku

menempuh ranjau perjalanan hidup ini

meski tanpamu disisi.


Di saat tanpamu nanti

daku yakin pasti suatu masa

akan ada sinar cahaya

kitakan bertemu semula

ku kan mendakapimu mesra

dan meneruskan hidup bersama

kalau tak di dunia

di akhirat sana nanti

pasti ketemu jua.


Saleh Muslim

Blind Centre, Kuching

29 September 2023

Lelah

Aku digembala setiap pagi

memenuhi cita-cita sebagai ternakan

dimanipulasi menjadi abdi

memperjudi kudrat untuk helaian kertas.


Tali leher menjadi petanda

manusia syirik kepada harta

hidup digembala, mati dilupakan

pentasnya buana, manusia dilakonkan.


Benar kata sang pencerah

hidup semata hiburan

teatrikal, ketawa dan tangisan

egotistikal, mati takkan kusembah.


Yang kudambakan nirvana

hakikatnya cahaya disuluh bayang berganda

takut mati takut segalanya

sedar diri, masih samsara.


Danial Haziq Izzuddin

Universiti Teknologi Sarawak

Bidadari di Ranjang

Memerhatimu dari celahan

antara dinding dan pintu

kau terbaring longlai

dikelilingi ibu serta saudara

bergema kalimah doa untukmu.


Aku berdiri memeluk boneka

bantal busuk yang dijahitmu

menanti diajak main

namun kau masih lena

berbungkus selimut dek dingin.


Kata ayah, ada pedih

pada paru mengerang perit

hingga opah lumpuh di ranjang

batuk menyiksa meski kerap diubat

membuatku duka mengenangmu.


Jika keajaiban bisa berlaku

izinkan paruku untuk bidadari itu.


Awang Alfizan

1Borneo Tower B, Kota Kinabalu.

2 Oktober 2023

Sajak yang Bukan Itu-itu

SEBUAH sajak yang baik, pasti membekaskan sesuatu kepada pembaca apalagi penikmatnya. Penikmat sajak pasti ralit mencicipi larik demi larik makna

TIANG BELIAN KUMANG

KUMANG sesak nafas bagaikan dadanya terisi penuh oleh biji-biji lada yang semerah matahari yang tegak di kepala. Pandangannya lantas berbinar-binar.