
APABILA menulis sajak, penulis perlu peka pada jiwa yang mahu diungkapkan. Jiwa ialah gagasan dan perasaan penulisnya. Karya sajak bukanlah sebuah prosa kecil. Kata-kata yang dipilih harus mendegupkan rasa, mendenyutkan makna dalam saraf penaakulan pembaca.
Sajak yang bernadi, memberi roh pada tubuh bahasa yang dinukilkan. Kata-kata disusun rapi bagi membentuk rasa yang utuh. Menulis sajak bukan sekadar merangkai kata yang indah atau merungkai metafora yang memukau, tetapi sebuah pengamatan batin yang menuntun kejujuran.
Sajak yang “tanpa roh” sering lahir daripada kepolosan kata yang dipilih, bukan pada makna yang mengalir daripada alur jiwa sebenar. Maka, terhasillah sajak yang sepi dinikmati sarinya.
Degup kata berdetak daripada denyut pengalaman. Makna kata mengalir daripada belahan luka, atau kerlipan harapan yang pernah menyala dalam diam. Tanpa roh, sajak sekadar tubuh tanpa jiwa—ada, tetapi kaku.
Dalam proses menulis sajak, penulis boleh terikat dengan kaedah tertentu. Semua itu penting, tetapi bukan segalanya.
Apabila terlalu didominasi teknikal, sajak kehilangan kebebasan untuk bernafas. Karya menjadi kaku seperti lukisan yang diwarnai sempurna, tetapi tidak mampu mentafsirkan apa-apa.
Sebaliknya, sajak yang berjiwa walaupun kurang sempurna olahannya, tetapi jika kata-kata yang dipilih penulis mampu menggugah rasa, maka berdeguplah ungkapannya menadikan makna yang tuntas.
Sajak yang hidup tidak semestinya rumit ditafsir. Kadangkala, kata yang paling sederhana pun mampu membawa makna yang paling dalam. Justeru, roh dalam sajak bukan terletak pada keindahan bahasa semata-mata, tetapi pada ketulusan ungkapan.
Pembaca tidak hanya menata kata, tetapi merasai getar di sebaliknya. Misalnya, jika menuliskan kesedihan yang ingin dikongsikan. Dalam bahasa biasa ditulis begini, “air matanya mengalir di pipi, aku sedih”.
Tetapi dalam bahasa sajak ditulis, “air matanya mengalir di pipiku”. Kedua-dua baris sajak memberi makna yang sama, tetapi baris kata sajak harus berdegup bagi mendenyutkan rasa yang hangat.
Sajak (tanpa roh) bukanlah kegagalan mutlak, tetapi proses pembelajaran yang artistik. Kebenaran ini untuk mengajak penulis memahami seni keindahan menulis sajak, menghargai nilai puitika kata dan maknanya, dan menjaga wibawa kalimat yang lahir daripada dalam diri yang pernah didengar.
Karya sajak yang bernyawa didenyutkan oleh ungkapan kata yang mampu membuat pembaca terhenti sejenak kerana mereka dapat merasakan sesuatu daripada diri mereka di dalam sajak itu. Maka, di situlah roh sajak mengelopak makna—diam, tetapi bergetar.
Top of Form
Oleh itu, syabas dan tahniah kepada Sapinah Abd. Nasir, Conielya Vieda Anak Lawrence dan Abdullah Hussaini yang tulus semangat menulis sajak. Sajak mereka telah disiarkan dalam ruangan Wadah Bahasa dan Sastera (WBS), akhbar Utusan Sarawak pada hari Khamis yang lepas.
Sajak-sajak yang dinukilkan oleh mereka pada dasarnya lebih menanggapi soal-soal yang manusiawi dan merupakan sebuah perkongsian pengalaman serta pengamatan kendiri.
Semua sajak tersebut seperti berusaha melepaskan diri daripada embrio kehidupan yang ada. Semoga nilai-nilai alamiah yang ditaakul tersebut dapat menafaskan sesuatu pada jiwa pembacanya.
Sajak “Checkmate!” oleh Sapinah Abd. Nasir bertemakan kehidupan yang manusiawi di dunia ini. Sajak ini disarati dengan tamsilan penulis terhadap pertarungan dalam kehidupan yang dialegorikan dalam permainan papan catur.
Misalnya dalam pada rangkap awal sajak;
Di atas meja rotan mumuk
terbentang petak bersela warna
hitam dan putih tempatku melangkah
hitam dan putih dua kuasa beradu fikrah
langkah dibuka bersahaja
tanpa strategi tanpa waspada
buah tersusun mula binasa
lawan tersenyum mendabik dada.
(rangkap 1 dan 2, sajak “Checkmate!“)
Manakala dalam rangkap akhir sajak, penulis menyimpulkan bahawa sikap dan pendirian individu amat penting bagi menentukan nasib akhir kehidupannya selepas bertarung. Misalnya;
termangu seketika
tiada lagi ruang beralih
kiri dan kanan terjerat kini
Checkmate!
detik pun terhenti.
(rangkap 3, sajak “Checkmate!“)
Sajak ini berbentuk bebas dan dibina dalam tiga buah rangkap yang sederhana panjangnya. Gaya bahasa sajak biasa dan kata yang dipilih pun tidak lewah, hanya sedikit klise.
Misalnya baris sajak, “tanpa strategi tanpa waspada” dan “buah tersusun mula binasa”. Pernyataan yang cukup langsung dan jelas. Penulis boleh mengolahnya dengan penggunaan citra yang lebih segar atau berkias.
Penulis juga kurang memberi lapisan makna, apalagi bersifat ambiguiti agar pentafsiran pembaca lebih bernyawa.
Sajak ini ampuh sebagai alegori langsung, tetapi belum benar-benar membuka tafsiran yang lebih luas atau kompleks tentang catur rangga kehidupan yang sebenar.
Sajak ini mempunyai kelainan atau keistimewaan yang khas kerana penulis telah berani mengolah sajak awalnya dengan menggunakan permainan catur sebagai falsafah kehidupan ini.
Sekalipun tata pengolahannya belum tuntas tapi pendekatan ini suatu yang menarik dalam menulis sajak. Setidak-tidaknya penulis telah memberi roh dalam sajaknya dengan alegori permainan catur. Syabas kepada penulis!
Walau bagaimanapun, suka diingatkan bahawa ketika memilih judul sajak wajarlah dalam bahasa ibunda sepenuhnya. Terutamanya apabila menghantar karya kepada pihak Dewan Bahasa dan Pustaka.
Apabila penulis menggunakan bahasa asing, Checkmate sebagai judul sajak, ini bukanlah pilihan yang betul dan tepat.
Sekalipun kata checkmate digunakan dalam permainan catur untuk menggambarkan keadaan raja yang tidak lagi mempunyai sebarang langkah untuk menyelamatkan diri, atau permainan tamat, ia tetap tidak sesuai.
Oleh itu, judul sajak ini akan mempunyai rohnya jika penulis menggunakan judul “Sekat Mati” dan diyakini kesan dramatiknya lebih berdegup dan mendenyutkan nadi makna sajak yang dalam untuk pembacanya.
Sajak “Retak yang Menghidupkan Kita” oleh Conielya Vieda Anak Lawrence berdegup dalam detak emosi yang lembut tetapi reflektif—mengolah pengalaman keretakan hubungan sebagai proses yang mendewasakan.
Tema utama sajak ini ialah impak keretakan dalam hubungan cinta sepasang manusia. Pada keseluruhan sajak ini, penulis belajar memahami pengalaman menjalani suasana hubungan yang telah retak.
Misalnya;
Tatkala retak hadir
Dalam prahara kata-kata
Yang tersalah tafsir
Dalam bungkam yang kita biarkan
Terlalu lama.
Tentang jarak
Sudah terbiasa dengan ranjau jarak
Yang jauh dari saujana pandangan
Menyukarkan penyembuhan sebuah retak.
Dan sejak itu
Mulai belajar tentang sakit
Tentang hati yang berdarah dalam diam
Luka yang tak berparut pada kulit.
(rangkap 2-4, sajak “Retak yang Menghidupkan Kita”)
Pada rangkap sajak seterusnya, penulis menemukan pembaca tentang pengertian yang cukup berharga daripada hubungan yang telah retak. Misalnya;
Namun anehnya
Retak yang dirasai bersama
Mampu kita fahami
Erti sebuah kesetiaan perjuangan.
Cinta yang tidak harus selalu indah
Menyedarkan kita untuk lebih akrab dengan kerapuhan
Lebih saling memegang erat
Untuk memugar semula harapan.
Barangkali,
Tanpa retak itu kita hanya jasad tanpa nyawa
Sehingga kita tidak pernah tahu
Bahawa berharganya sebuah “kita”.
(rangkap 5-7, sajak “Retak yang Menghidupkan Kita”)
Manakala pada akhir rangkap sajak, penulis menyimpulkan bahawa luka telah mengajar tentang kehilangan tapi retak masih memberi cahaya untuk mereka memahami makna hubungan yang manusiawi. Misalnya;
Dan di situlah
Luka yang mengajar tentang kehilangan
Telah menyedarkan bahawa
Dalam setiap retak
Ada celah cahaya
Untuk kita kembali bernyawa.
(rangkap 8, sajak “Retak yang Menghidupkan Kita”)
Sajak ini diolah secara progresif dan naratif emosi. Pemilihan kata dalam sajak ini masih biasa walaupun ada percubaan penulis menggunakan elemen metafora (ranjau jarak), imejan (berdarah dalam diam, tak berparut pada kulit, jasad tanpa nyawa) dan personifikasi (hati yang berdarah).
Sajak ini juga berbentuk bebas dan dibina daripada lapan rangkap yang menjadikannya agak lewah dengan beberapa baris kata biasa tentang cinta.
Gaya bahasa sajak masih memerlukan penelitian yang lebih teliti agar penyampaian ungkapannya lebih rapi dan tuntas.
Justeru, penggunaan unsur-unsur persajakan seperti metafora, perlambangan, personifikasi dan lain-lainnya masih perlu diolah dengan lebih tuntas bagi memaknakan baris sajak yang lebih tepu.
Sajak ini mempunyai rohnya apabila berupaya menyampaikan pesan positif bahawa keretakan bukan pengakhiran, tetapi ruang untuk memahami dan menghidupkan semula hubungan.
Untuk pemilihan kata, penulis masih perlu belajar menyaring kata yang perlu dan utuh bagi mendegupkan olahan sajaknya bagi menafaskan konflik agar lebih terasa tulus, bukan sekadar ungkapan konvensional emosi.
Terakhirnya ialah sajak “Di Tengah-tengah Detik (untuk sang pemilih)” oleh Abdullah Hussaini, sebuah sajak bertemakan pergelutan peribadi dalam membuat pilihan hidup yang benar dan pencarian makna yang magis.
Persoalan dalam sajak ini cukup berat dan sarat konflik diri. Penulis larut dalam kemelut yang panjang, rusuh dan sunyi. Misalnya;
setiap debar akan bertemu penamat dan tiap sabar akan menumbuhkan nikmat. aku mahu lebih daripada segelas air.
… .
bagai tak ada jalan hujung. segala sudut bagai mengepung. mengapa kita rasa bersalah ketika membuat keputusan yang betul. dan mengapa kembara yang jauh harus bermula sekarang?
ini belum titik henti. belum. … aku berjalan terus setelah terjaga. mengumpul kekuatan dari urat-urat silam yang kian pudar. … . esok dan lusa di sebalik kelopak rahsia.
(rangkap 1 dan 3, sajak “Di Tengah-tengah Detik”)
Pada rangkap akhir sajak, penulis menyimpulkan bahawa pengalaman mampu membentuk kekuatan semasa dan manusia wajar kembali kepada Tuhan pada saat genting bagi menemukan titik pencerahannya.
Misalnya;
‘kau harus belajar menjadi terang, mengkaji bahasa tangisan dan mengupas huruf derita.’
dalam satu detik di tengah-tengah bahang yang mengepung, aku telah bercakap kepada Tuhan.
(rangkap 5, sajak “Di Tengah-tengah Detik”)
Bentuk sajak ini bebas dan dibina daripada lima buah rangkap yang prosaik. Gaya bahasa sajak ini utuh dengan metafora seperti “kelopak rahsia”, “urat-urat silam”, “bahasa tangisan” dan “pelita padam” yang memberi ruang tafsiran terbuka.
Namun demikian, kepadatan metafora boleh mengabui ketepuan makna sajak. Misalnya, penggunaan imej besar banyak digunakan serentak (air, laut, malam, pelita, urat, mimpi) hingga menyebabkan pembaca mungkin tersasar penaakulan.
Contoh paling jelas adalah penggunaan kata “telaga” dan “sumur” yang memberi makna yang sama. Hal ini boleh mengganggu penaakulan pembaca dengan mudah. Kesilapan kecil ini wajar dielakkan kerana penulis sudah mahir memanipulasi metafora yang sesuai.
Pun demikian, baris kata bergaris “mengkaji bahasa tangisan dan mengupas huruf derita” juga harus diteliti kerana jalinan imejan tersebut kurang sesuai. Kata “mengupas” wajar diganti dengan kata yang lebih sesuai agar imejan yang digunakan tidak bercampur. Misalnya, “menata huruf”.
Selain itu, aliran persoalan dalam sajak agak terputus-putus. Peralihan antara rangkap terasa seperti loncatan idea, bukan kesinambungan yang mengalir sepenuhnya.
Abstrak yang tinggi dan sulit diamati dengan tuntas kerana sajak ini sarat berfalsafah daripada menekankan pengalaman konkrit bagi pembaca biasa menemukan roh sajak yang dicarinya.
Oleh itu, cuba jalinkan keharmonian gugahan emosi dari rangkap ke rangkap agar kocak aliran terasa lebih dinikmati.
Semoga dengan teguran dan saranan yang ada, penulis dapat memahami perkara yang disampaikan dengan berlapang rasa dan tanggapan. Sememangnya menulis sajak yang baik bukanlah sesuatu yang mudah dan diselesaikan dalam jangka waktu yang singkat.
Sesebuah karya sajak yang dihasilkan lazimnya perlu melalui proses baca, sunting, baca dan sunting sehingga ungkapan rangkapnya benar-benar menyeluruh makna tema dan persoalan-persoalannya.
Rumusnya, ketiga-tiga buah sajak yang dibicarakan tadi masih mempunyai roh sajak yang baik, sama ada dari sisi kata ataupun makna sajak.
Oleh itu, potensi Sapinah Abd. Nasir, Conielya Vieda Anak Lawrence dan Abdullah Hussaini dalam menulis sajak wajar diberikan ruang dan peluang yang lebih khusus pembelajarannya.
Mereka telah memperlihatkan nilai kepenyairan diri yang tinggi dalam mengungkapkan roh sajak yang baik untuk dikongsikan. Mudah-mudahan sikap positif teguh menjejaki diri ke jalan kritik yang lebih membina dan terbuka. Syabas dan sukses, selalu!
Oleh Rosani Hiplee