
Askar Kecil
Matahari menegak,
tidak lagi cahaya,
tetapi cambuk.
Kulit terbakar,
tulang berbaris,
askar kecil,
menyeret gula,
sebutir demi sebutir.
Di ranjang empuk,
pelesit bermimpi,
mulutnya ternganga,
menjadi raja,
tanpa pedang,
tanpa sejarah.
Gunung berdiri,
atas mata batu,
hati beku,
ia menonton,
bukan mendengar.
Jeritan,
tidak bergetar,
hanya langkah kecil
menyusun bunyi seperti,
gendang lapar yang tak pernah kenyang.
Dan bila tanah subur,
tersenyum dengan hijau,
askar kecil,
masih di sana,
tidak bersuara,
tidak meminta,
hanya menang,
tanpa mahkota.
Sementara bayang,
yang malas,
yang palsu,
yang lena di tilam mimpi,
hilang, ditelan angin petang.
Angel Anak Samling
Miri, 2025
Nyala di Relung Duka
Aku bukan permata di mahkota,
bukan darah raja yang dijulang takhta,
bukan bijak pandai menawan kata –
namun di dadaku, bara tak pernah padam.
Aku sering jadi senda dunia,
jadi sasaran lidah berbisa,
jadi bayang di jalan hina –
namun bara itu tetap bernyala.
Aku bangkit dari reruntuh kecewa,
dari tanah luka yang membekas di dada;
gagal kupintal jadi azam,
kutambat di pelabuhan cita.
Hari ini, aku buktikan –
bukan beban sejarah,
bukan lemah tersungkur,
bukan debu, hilang ditiup angin.
Kata nista kutelan jadi hikmah,
tawa sinis kutukar jadi tangga;
dari serpih impian hampir mati,
kini terbit cahaya di ufuk sendiri.
Koperal Muhammad Hafiz Berahim (ATM)
20 April 2025
Di Bawah Langit Yang Membatu
Di bawah langit bisunya membatu,
terkubur kisah pahit di dada waktu.
Suara kecil tenggelam tanpa restu,
namun gema jujurnya tak pernah layu.
Ada yang menjual derita manusia,
menyematkan nama di atas luka.
Antara tulus dan pura-pura,
hanya hati bening tahu bezanya.
Air mata bukan barang dagangan,
dan sedih bukan hiasan di jalan.
Jangan ditawar luka teman,
kerana adil lahir dari keikhlasan.
Jika perjuangan jadi pegangan,
setiap hela nafas doa bertahan.
Namun jika untung jadi tujuan,
sejarah bisu tak menyebut nama yang hilang.
Hipnie Sharbini
Miri